Istano Basa Pagaruyung sejarah dari Luhak Nan Tigo

Helloindonesia.id – Agam kawasan segitiga, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar, dianggap sebagai awal dari penyebaran spindle budaya Minangkabau. Meninjau sejarah ketiga percaya bahwa di masa lalu daerah berjuluk ‘luhak nan tigo’ adalah pelunasan awal dari orang-orang Minangkabau atau disebut juga wilayah darek (daratan).

Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung

Di daerah yang sama, di masa lalu mendirikan pemerintahan konfederasi disebut Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan terbentuk dari kombinasi nagari runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda Padri masa pergolakan perang.

Salah satu peninggalan sejarah yang tersisa dari keberadaan Kerajaan Pagaruyung adalah istana megah yang terletak di Desa Pagaruyung, Tanah Tanjung Emas, Batusangkar, Tanah Datar. Istana ini resmi bernama Istano Basa Pagaruyung yang berarti benteng besar Kerajaan Pagaruyung.

Seperti namanya, istana ini mengabadikan kemegahan arsitektur dari pusat administrasi kerajaan. Meskipun bentuk yang berdiri saat ini bukan bangunan aslinya, namun rincian arsitektur khas masih sama dengan kondisi di masa lalu.

Basa Pagaruyung Istano sebelumnya kediaman Raja Alam, serta pusat administrasi sistem konfederasi yang dipimpin oleh tiga serangkai (tiga pemimpin) dijuluki ‘Rajo Tigo Selo’. Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan bantuan dua deputi, seorang raja Adat berdomisili di Buo dan Raja Ibadah berdomisili di Sumpur Kudus. Kedua perwakilan telah memutuskan berbagai hal yang berkaitan dengan masalah adat dan agama. Namun, jika masalah tidak diselesaikan maka bisa Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan finish.

Istana ini merupakan replika dari bangunan aslinya terbakar pada 1804. Belanda berbentuk membangun rumah dengan gonjong tahap atap berukuran yang merupakan karakteristik dari arsitektur tradisional Minangkabau. Rumah berlantai tiga panggung besar, dengan 72 tonggak ke dalam buffer utama. Ada 11 gonjong atau atap yang menghiasi bagian atas bangunan ini. Seluruh dinding bangunan yang dihiasi dengan ornamen ukiran berwarna-warni yang total terdiri dari 58 jenis motif yang berbeda.

Sebagai sebuah istana kerajaan, setiap tingkat di gedung memiliki fungsi yang berbeda. Tingkat terendah adalah di mana kegiatan utama pemerintah dalam bentuk sebuah ruangan besar dengan area khusus melebar sebagai singgasana raja di tengah. Di sisi kiri dan kanan ruangan ada ruang kamar. Di bagian belakang ada tujuh buah tahta ruangan sebagai tempat untuk putri yang telah menikah.

Tingkat kedua bangunan adalah ruang kegiatan untuk putri yang belum menikah. besarnya ruangan ini sama dengan ruang utama besar di bawah. Ruangan yang teratas adalah di mana raja dan ratu bersantai sambil melihat kondisi di sekitar istana. Ruangan ini disebut ventilasi anjung, yang posisinya terletak tepat di bawah atap gonjong di tengah-tengah bangunan atau disebut juga gonjong mahligai. Di ruangan ini ada sejumlah koleksi senjata pusaka kerajaan asli tetap, termasuk tombak, pedang, dan senjata dari Belanda.

Bangunan asli istana awalnya terletak di Bukit Batu Patah. Setelah insiden pada 1804 ini didirikan kembali istana, tapi itu terbakar habis pada tahun 1966. Pada tanggal 27 Desember 1976 upaya rekonstruksi menandai kembalinya dilakukan dengan meletakkan tunggul tuo (tiang utama) oleh Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Aaron Zain. Istana ini dibangun kembali di lokasi baru di sisi selatan bangunan aslinya, yang di lokasi saat ini.

Pada tanggal 27 Februari 2007, istana membalas tembakan karena petir. Upaya membangun kembali terjadi antara tahun 2008-2012, biaya lebih dari Rp. 20 Miliar. SEBUAH

Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung

arsitektur asli diawetkan meskipun sebagian besar barang-barang berharga peninggalan di dalamnya hilang, dan hanya sekitar 15 persen.

Ruang bawah adalah ruang utama dengan beberapa kios di sisi dan belakang. Tujuh bilik di sisi belakang adalah ruang sang putri yang telah menikah. Di tengah ruangan, tahta di mana raja menjalankan pemerintahan. Lantai kedua adalah ruang kamar tidur untuk putri yang belum menikah. Lantai atas di mana raja bersantai, sekarang koleksi senjata ruang display.

Visit too: http://balitraveldiary.com

Baca Juga