Temulawak Tanaman Obat Asli Indonesia

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza), tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), adalah salah satu tanaman obat unggulan yang memiliki khasiat multifungsi. Dr Roy Sparringa, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), mengatakan dari sekitar 900 produk obat tradisional yang terdaftar di Indonesia, sebagian besar memiliki kandungan temulawak.

“Temulawak ini unggulan asli Indonesia. Walau tanamannya menyebar ke seluruh dunia, tetapi curcuminoid dan minyak xanthorrizol dari temulawak Indonesia yang paling dicari,” kata Roy, seperti diberitakan kompas.com.

Temulawak
Temulawak

Temulawak unggulan saat ini adalah Cursina 3, yang seperti dikutip dari situs litbang.deptan.go.id, merupakan hasil seleksi individu asal Majalengka. Varietas ini, memiliki bentuk daun jorong atau lonjong (oblong elliptic), rimpang berbentuk agak kerucut, kulit cokelat muda, daging kuning oranye tua, dengan berat per rumpun 600 gr-1.200 gr.

Produksi rata-rata rimpang 21 ton-31 ton. Keunggulan varietas ini memiliki kadar kurkumin 5,22 persen, minyak atsiri 6,47 persen, xanthorizol 0,97  persen, pati 48,9 persen, abu 5,74  persen, serat 2,51 persen. Produksi yang dapat dicapai 21 ton-31 ton/ha. Varietas temulawak ini potensial dikembangkan secara komersial untuk bahan baku industri dan jamu.

Khasiat temulawak yang sudah terbukti ilmiah antara lain sebagai antiinflamasi, memelihara fungsi hati, meningkatkan nafsu makan, hingga menurunkan lemak dalam darah.

“Selain untuk liver, kurkumin dalam temulawak bisa untuk inflamasi. Pasien dengan osteoartritis bisa dikurangi sakitnya dengan temulawak,” kata Indah Yuning Prapti, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes RI.

Tanaman temulawak menurut Wikipedia, berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Tiongkok , Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Temulawak adalah nama yang biasa dipakai di Jawa, sementara di Sunda disebut koneng gede, sedangkan Madura disebut temu labak.

Tanaman ini, dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, dan berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur.

Tanaman ini berbatang semu, dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2 – 2,5 meter. Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Panjang daun sekitar 50 – 55 cm, lebarnya lebih kurang 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis-garis cokelat.

Tanaman temu lawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu.

Rimpang induk temu lawak bentuknya bulat seperti telur, dan berukuran besar, sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping yang bentuknya memanjang. Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara 3 – 4 buah. Warna rimpang cabang umumnya lebih muda daripada rimpang induk. Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua kuning, atau cokelat kemerahan. Warna daging rimpang kuning atau oranye tua, dengan cita rasa amat pahit, atau cokelat kemerahan berbau tajam, serta keharumannya sedang.

Rimpang terbentuk dalam tanah pada kedalaman lebih kurang 16 cm. Sistem perakaran tanaman temu lawak termasuk akar serabut.  Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temu lawak untuk dibuat jamu godok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.