Pray For Lombok | Indonesia

Saudara-saudara kita di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di wilayah Lombok dan sekitarnya, yang masih trauma dengan gempa yang terjadi Minggu (29/7) pagi atau sekitar seminggu lalu, pada Minggu (5/8) petang kembali diterpa bencana. Sungguh memprihatinkan, karena guncangan gempa kali ini lebih besar dari sebelumnya, jumlah korban tewas lebih banyak, ratusan orang luka-luka, dan banyak bangunan yang roboh.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah korban meninggal akibat gempa berkekuatan 7 skala Richter itu sebanyak 91 orang, sebanyak 209 luka-luka, ribuan rumah rusak, dan puluhan ribuan mengungsi. Korban meninggal kebanyakan karena tertimpa bangunan yang roboh karena gempa. Namun, ada pula yang meninggal setelah terjatuh dan mengalami stroke saat berlari menyelamatkan diri ketika gempa terjadi.

Saat gempa Lombok 7 SR terjadi, ada 10.000 masyarakat yang masih mengungsi di berbagai titik pengungsian pascagempa berkekuatan 6,4 SR yang terjadi 29 Juli 2018. Jumlah pengungsi saat ini diperkirakan bertambah melebihi angka pengungsi sebelumnya menjadi sekitar 20.000 orang.

Kemudian, Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) juga sedang berusaha mengevakuasi sekitar 1.000 orang dari kawasan wisata Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Hingga kini, sudah 358 wisatawan berhasil dievakuasi, terdiri dari 208 wisatawan asing dan 150 wisatawan domestik. Proses evakuasi menggunakan kapal milik Basarnas, Kementerian Perhubungan, dan pihak swasta. Kementerian Perhubungan mengerahkan enam kapal untuk proses evakuasi.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Mataram menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa bumi. Tercatat, intensitas mencapai skala 7 Modified Mercalli Intensity (MMI) dirasakan di Mataram.

Selain itu, daerah Bima, Denpasar, dan Karangasem terjadi kerusakan ringan disebabkan intensitas mencapai skala 5 sampai 6 MMI. Artinya mengalami kerusakan ringan apabila konstruksi memenuhi standar keamanan gempa. Kemudian wilayah Waingapu, Genteng, Situbondo, dan Malang mengalami intensitas 2 sampai 3 MMI.

Menurut BMKG, gempa bumi tektonik berkekuatan 7 SR yang mengguncang Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada pukul 18.46 WIB adalah gempa utama. Jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik, yang berpusat pada koordinat 8,37 derajat Lintang Selatan (LS) dan 116,48 derajat Bujur Timur (BT) pada kedalaman 15 kilometer (km) berjarak 18 km timur laut Lombok Timur.

Berdasarkan analisis BMKG, guncangan gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah lain yaitu Kuta IV MMI serta Waingapu, Genteng, Situbondo, dan Malang dengan intensitas II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI). BMKG mencatat sedikitnya ratusan kali gempa telah terjadi dengan intensitas yang semakin berkurang.

Kondisi bandara saat ini penuh dengan penumpang yang akan keluar dari Lombok. Ada yang memang sudah terjadwal, ada yang mendadak melakukan pembelian tiket di lokasi. Adapun penumpang yang memadati Bandara Lombok mayoritas merupakan wisatawan asing. Sebagian besar dari mereka ingin meninggalkan Lombok ke arah Bali, Surabaya, dan Jakarta.

Gempa bumi di NTB kali ini bermagnitudo 7 sehingga dampak korban jiwa dan kerusakan fisik lebih tinggi dibandingkan gempa sebelumnya. Kondisi ini membutuhkan konsentrasi pemerintah dan lembaga terkait untuk menanganinya.

Kita pun merasakan betapa sedihnya saudara-saudara kita yang terkena bencana gempa itu. Kita mesti bersatu padu untuk untuk membantu meringankan penderitaan saudara kita yang terkena dampak bencana. Untuk itu, kita harus membantu mereka dengan segala cara, termasuk selalu mendoakannya agar tabah menghadapi bencana ini.

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berdoa-untuk-lombok/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.