Indonesian

Beumban, Begorok, dan Rangga Titi

Helloindonesia.id – Setelah upacara bantuan Dragon Carrier kepada Kutai Lama selesai, mempertahankan ritual di sekitar lingkungan Kutai Keraton. Ritual berturut-turut, berdada, dikemari, dan Rangga Titi. Seluruh ritual akan menjadi pengantar sebelum ritual Belimbur dilaksanakan oleh semua orang Kutai.

Dalam berdada, Sultan diletakkan di atas kasur (kasur) kain kuning dikemas. Tubuh Sultan kemudian ditutupi dengan kain kuning. Kepala Sultan menghadap ke utara dan kakinya berada di selatan. Di atas kasur, ada beberapa persediaan ritual, di antara bantal, bergulir, beragam (paket yang sepenuhnya ditekan), dan lilin yang menyala di setiap sudut kasur. Ritual ini berlangsung di Space Stinggil (Siti Hinggil), Kutai Keraton.

Pelatih kerabat Sultanate akan memimpin ritual ini. Ini akan mengambil bunga dan berdoa pada kain kuning yang disajikan oleh empat kerabat lainnya. Pinang ditandai dari kepala ke lutut sekali. Ini diulangi dua kali dengan posisi Sultan yang menghadap ke kanan (barat) dan kiri (timur). Selanjutnya, Sultan akan mengembalikan masa lalu dan duduk menghadap ke timur.

Upacara diperpanjang dengan HUNOR. Pada ritual ini, Sultan duduk di bambu kuning (Haur Yellow) yang memiliki 41 kolom. Posisi Sultan menghadap ke timur. Di atas kepala Sultan, menyajikan Tukuh Kirab yang kemudian akan kembali oleh dua Pangkon (hamba Dalem) dua kali. Tuhan (Upaya Ritual Wanita) dan Pembelian (Meni dari Ritual Bachesperson) akan mengatakan mantra (memang) dan melakukan ritual tapong yang direkam ke Sultan. Mereka menaburkan air sakral ke beberapa anggota Sultan dan Sultan akan memperkaya alis dan alis dengan uang logam.

Prosesi berikutnya adalah persegi panjang Titi. Dalam proses ini, Sultan disertai dengan rombongan Keraton ke dermaga. Prosesi ini kemudian diperpanjang sebagai jaringan di Hunorok. Sultan duduk di balaai bambu, diapit oleh tujuh Pangkon Mgges dan Bini. Para dewa dan pembeli mengatakan mantra dan melakukan ritual yang ditempel sebelumnya. Sultan menempatkan bunga-bunga Penang ke Guci (Molo) yang berisi air tua, kemudian memecah air menjadi empat sudut angin yang diperluas dengan menaburkan air dengan tangan ke kerabat dan peserta. Prosesi ini menjadi tanda ritual benial oleh semua masyarakat. [Ardee / IndonesiaKaya]

indonesiakaya.com

Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago