Indonesian

Tari pepatay Kalimantan Timur

Helloindonesia.id – Seorang pemuda duduk setengah bersila mengenakan pakaian adat Dayak lengkap dengan mahkota, perisai, dan mandau di pinggangnya. Seorang pemuda lain lalu keluar juga membawa perisai dan mandau. Sementara, suara dengungan yang bersumber dari alat musik sape dibunyikan untuk mengiringi pertarungan. Mereka sedang membawakan salah satu tari asal Dayak Kenyah yang bernama tari pepatay.

Tari pepatay merupakan tari yang menceritakan ksatria Dayak yang pandai berperang. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang lelaki muda yang mengenakan pakain adat Dayak Kenyah. Pakaian adat laki-laki Dayak Kenyah dinamakan dengan sapei sapaq. Sapei sapaq umumnya berwarna dasar hitam, dengan bagian atas berbentuk rompi.

Rompi tersebut dihiasi manik-manik yang berwarna cerah dan kontras. Menurut tetua adat Dayak Kenyah, warna manik-manik yang kontras pada sapey sapaq merupakan simbol bahwa orang Dayak Kenyah mencintai alam layaknya mencintai keharmonisan dalam perbedaan.

Bagian bawah sapei sapaq berbentuk cawat. Bagian ini disebut abet kaboq. Celana cawat ini juga tak luput dari hiasan manik-manik yang berwarna kontras.

Gerakan penari pepatay didominasi gerakan yang gesit, lincah, dan cenderung akrobatik. Sesekali, ketika menghela gerakan tari, para penari biasanya melontarkan teriakan-teriakan untuk memprovokasi lawan. Sambil berteriak, mereka tetap dalam posisi siap (kuda-kuda). Pada tahap ini, biasanya gerakan penari akan berputar perlahan mengikuti gerak lawannya.

Dalam pertunjukan, para penari pepatay menggunakan mandau asli. Karenanya, aksi saling serang yang dilakukan kedua penari menjadi semakin tegang. Pertunjukan yang disaksikan pun menjadi lebih asyik.

Tari adu pedang dua ksatria ini merupakan salah satu sisi eksotis Borneo. Tari ini wajib dipentaskan ketika menyambut tamu kehormatan atau pada kegiatan budaya lainnya. Tari pepatay merepresentasikan masyarakat Dayak Kenyah yang gagah berani tapi tetap menjunjung keharmonisan. Nilai-nilai warisan budaya adiluhung yang patut dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan kebudayaan bangsa yang beragam. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Indonesiakaya.com

Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago