Indonesian

Sejarah Rusa Nepal Hidup di Istana Bogor

Helloindonesia.id – Rusa-rusa di halaman  Istana Bogor, istana yang berimpitan dengan Kebun Raya, adalah sebuah pemandangan menarik jika melintas di depan Istana itu. Rusa-rusa itu akan bermunculan, memenuhi lapangan  sekitar jam 9 pagi. Ketika matahari mulai menghangat, tak lagi sinarnya terlindungi pohon-pohon  atau dinding Istana yang putih.

Mereka yang ke Bogor, dan membawa anak-anak, saya sarankan sebaiknya jalan-jalan ke tempat ini. Melihat pemandangan rusa bertutul itu sekaligus memberi makan mereka.

Memberi makan? Ya, rusa-rusa itu, tak canggung untuk merapat ke pagar, menjulurkan kepalanya,  dan mengunyah wortel atau sayuran yang disodorkan langsung oleh tangan  pengunjung.

Jumlah rusa di Istana Bogor itu  kini sekitar 600-an ekor. Jika pagi hingga siang, mereka berjalan-jalan, berlari-lari,  dan terlihat jelas  dari jalan raya, dari dalam mobil, dari dalam angkot. Tapi,  menjelang sore dan malam, mereka seperti lenyap.

Masuk kandang? Saya tak tahu. Tapi, dari kejauhan, jika saya melintas tempat itu di atas jam sembilan malam,  saya melihat gerombolan-gerombolan rusa  itu “tidur” dengan jarak antar  mereka begitu dekat. Tentu kosa kata “tidur” tak tepat, karenanya nyatanya tubuh mereka tidak terkapar, tidak terlentang,  di atas tanah dan –mungkin- matanya juga tidak merem. Mungkin lebih cocok: mereka rebahan. Rebahan berjam-jam dan tidak bergerak….Ndeprok.

Keberadaan rusa-rusa di Istana Bogor  memiliki sejarah panjang. Rusa bertututul  tersebut didatangkan dari Nepal pada tahun 1808.  Yang mendatangkan  Gubenur Jenderal Inggris Sir Thomas Raffles, pria yang sangat mencintai dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang.   Sir Raffles  rupanya ingin ada pemandangan lain di depan istananya yang dicat serba putih itu. Maka enam rusa pun ia datangkan dari Nepal.

Rupanya  enam rusa itu  betah dengan udara Bogor yang dingin, hawa  yang cocok untuk “acara kawin-kawinan.” Maka, dengan sukses pula mereka beranak pinak. Pernah suatu ketika populasinya mencapai lebih dari 900-an ekor. Dengan luas lahan di Istana Bogor sekitar 28, 4 hektare,  idealnya jumlah rusa di situ tak lebih dari 600.

Jumlah yang banyak itu tentu saja tak sehat bagi para rusa itu –juga memberatkan kantong rumah tangga Istana yang setiap hari memberi makan. Maka, rusa-rusa itu pun ada yang kemudian dihibahkan ke mana-mana. Mereka yang ingin meminta  juga boleh.  Caranya, mengirim surat permohonan kepada Sekretaris Presiden. Staf Istana kemudian akan mensurvei: apakah pemohon, perorangan maupun lembaga,  memenuhi syarat untuk mendapat rusa itu. Yang sangat menjadi pertimbangan,  luas lahan yang dimilik pemohon.

Presiden yang  paling sering dikaitkan dengan rusa adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Saat jadi presiden –walau singkat- Gus Dur  kerap berkunjung ke Istana Bogor. Suatu ketika muncul kabar, sejumlah rusa sempat disembelih untuk kemudian disantap para tamu istana. Saya belum pernah mendengar ada bantahan resmi soal kabar ini. Tapi, jika pun itu benar, menurut saya juga tidak apa-apa.  Jika kelebihan apa salahnya? Juga, bukankan daging rusa itu halal?

Nah, soal rusa Istana Bogor ini,  dua diantaranya pernah di bawa oleh Alwi Shihab, Menter Luar Negeri di era Gus Dur itu. Alwi rupanya pengin juga halaman rumahnya di daerah Ciganjur, Jakarta Selatan, ada “pemandangan” rusa seperti di Istana Bogor. Sepasang rusa, betina dan jantan pun di angkut dan dilepaskan di halaman rumahnya  setelah sebelumnya disurvei petugas Istana Bogor.

Sempat menikmati hidup di rumah politisi berhidung mancung itu, salah satu rusa itu belakangan  mati. Tak ada keterangan resmi, kenapa rusa itu mati,  karena sakit atau, apakah  stres  melihat para politisi lalu lalang di sana. Juga tak ada kabar,  apakah kemudian pihak Istana Bogor  mengirim pengganti rusa malang itu.

Kembali ke rusa di Istana Bogor, jika suatu ketika Anda ke Bogor, dan membawa anak-anak, sekali lagi  saya sarankan,  pagi-pagi  -lebih bagus hari Minggu- Anda bawa anak-anak ke Istana Bogor, melihat dan memberi makan rusa itu.

Di depan pagar  istana ada penjual wortel dan sayur yang harganya per ikat Rp 1.000. Begitu Anda acungkan wortel itu,  rusa-rusa itu pun mendekat,  tidak malu-malu….

Baca Juga

https://helloindonesia.id/id/bull-races-madura/308/indonesian/
Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago