Indonesian

Keris, Lebih Dari Sekedar Senjata

Helloindonesia.id – Secara mendasar perlu dijelaskan mengapa keris, yang merupakan senjata, dianggap sebagai warisan dunia bukan benda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO. Pengerjaan keris pada dasarnya membutuhkan keterampilan yang amat tinggi dalam memadu logam. Jika dibandingkan dengan keahlian padu logam lain di dunia, maka kehalusan hasil akhir keris mendapat apresiasi yang tinggi di antara para seniman logam.

Keris merupakan simbol tata kehidupan pribadi dan kehidupan sosial masyarakat Nusantara dan telah diakui sebagai intangible cultural heritage oleh UNESCO. (Sumber: wikipedia)

Pada saat yang sama, perlambang dalam lekuk-lurus senjata tradisional itu, termasuk penangkapnya (warangka) memberikan informasi mengenai pengetahuan dan pembatinan yang amat kaya atas simbol-simbol Nusantara, seperti warna emas, sulur, bunga, penunjuk arah, dan sebagainya.

Keris adalah salah satu jenis senjata tradisional khas Nusantara yang sudah ada sejak abad ke-5 Masehi. Mengalami masa keemasannya di zaman kerajaan Majapahit. Bilahnya ada yang lurus dan ada pula yang luk, yakni berkelok-kelok. Kelokannya mulai dari 1 sampai 13. Namun ada yang lebih dari 13, dan hal ini bisa dikatakan tidak normal.

Yang unik dari senjata tradisional ini adalah kehadirannya yang merupakan simbol tata kehidupan pribadi dan kehidupan sosial masyarakat Nusantara. Suatu kehadiran yang melebihi fungsinya sebagai senjata.

Dalam hubungan antara keris dengan calon pemiliknya, terdapat istilah jodoh, artinya ia harus cocok dengan pemiliknya. Hal ini semacam tuah dari keris itu sendiri. Keris yang tuahnya untuk menambah ambisi dan keberanian, tidak akan berjodoh dengan orang yang wataknya pemarah. Bila seseorang berwatak penakut, rendah diri dan tidak punya ambisi, tidaklah dapat berjodoh dengan orang yang sering kali pasrah, nrima, dan tenteram.

Secara sosial, keris juga menjadi simbol yang melampaui bentuk fisiknya. Di akhir masa penjajahan Belanda, misalnya, pada desa-desa tertentu di Nusantara, terdapat upacara rakyat yang bernama bersih desa, yakni upacara selamatan agar warga desa terhindar dari petaka, baik itu berupa gangguan penyakit, hama di sawah dan ladang, maupun petaka lainnya.

Di dalam upacara itu kerap kali disertakan sebuah keris berukuran kecil. Dari konteks demikian, keris hadir sebagai pengikat kekompakan dan kebersamaan di tingkat masyarakat.

Baca Juga

https://helloindonesia.id/id/mandau-the-traditional-weapon-of-north-kalimantan/1366/indonesian/
Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago