[:id]Film Yo Wis Ben[:]
Yowis Ben mengisahkan Bayu (Bayu Skak), seorang siswa SMA di Malang yang dikenal sebagai “Pecel Boy” karena membantu ibunya berjualan pecel. Bayu jatuh hati pada Susan (Cut Meyriska), namun merasa minder karena status sosialnya. Untuk menarik perhatian Susan dan meningkatkan kepercayaan dirinya, Bayu membentuk band bersama sahabatnya Doni (Joshua Suherman), serta dua anggota baru: Yayan (Tutus Thomson) dan Nando (Brandon Salim). Mereka menamai band tersebut “Yowis Ben”. Perjalanan mereka penuh dengan tantangan, mulai dari konflik internal hingga tekanan eksternal, namun juga sarat dengan humor dan semangat persahabatan.
Sekitar 80% dialog dalam film ini menggunakan bahasa Jawa, khususnya dialek Jawa Timur. Hal ini memberikan nuansa lokal yang kuat dan autentik, serta menjadi representasi budaya yang jarang ditemui dalam film layar lebar Indonesia. Meskipun demikian, penonton non-Jawa tetap dapat menikmati film ini berkat subtitle yang disediakan.
Humor dalam Yowis Ben terasa alami dan tidak dipaksakan. Dialog antar karakter, terutama yang menggunakan logat Jawa Timur, menambah kekocakan dan kedekatan dengan penonton. Kehadiran aktor-aktor seperti Joshua Suherman dan Brandon Salim juga memberikan dinamika yang menarik dalam kelompok band tersebut.
Di balik komedinya, film ini menyampaikan pesan tentang pentingnya percaya diri, menghargai persahabatan, dan berani mengejar impian. Kisah Bayu yang berusaha keluar dari zona nyamannya untuk meraih cinta dan pengakuan menjadi inspirasi bagi banyak remaja.
Disutradarai oleh Bayu Skak dan Fajar Nugros, serta diproduksi oleh Starvision Plus, Yowis Ben menunjukkan bahwa film dengan nuansa lokal dapat memiliki kualitas produksi yang tinggi dan diterima secara luas.
Musik dalam film ini tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian integral dari narasi. Lagu-lagu yang dibawakan oleh band “Yowis Ben” mencerminkan perjalanan emosional para karakter dan menambah kedalaman cerita.
Setelah dirilis pada 22 Februari 2018, Yowis Ben berhasil menarik perhatian lebih dari 800.000 penonton dalam tiga minggu pertama penayangannya. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa film dengan pendekatan lokal dan bahasa daerah dapat diterima dan diapresiasi secara nasional.
Yowis Ben adalah contoh sukses dari film yang menggabungkan elemen lokal dengan tema universal. Dengan humor yang segar, pesan moral yang kuat, dan produksi yang berkualitas, film ini layak menjadi tontonan bagi siapa saja yang mencari hiburan sekaligus inspirasi.
Note: Film ini dapat ditonton melalui platform streaming seperti Prime Video.
yak sekian …. hehe
sumber : http://dwiwinarno.com/2018/03/11/review-film-yo-wis-ben-bayu-skak/
Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…
Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…
Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…
Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…
Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…