Indonesian

Rumah Kaki Seribu: Arsitektur Mengagumkan dari Tanah Papua

Rumah Kaki Seribu merupakan rumah tradisional suku Arfak di Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak, Papua Barat. Suku Arfak terdiri dari tiga sub-suku: Sough, Hatam, dan Meyah. Rumah panggung dengan banyak tiang penyangga ini disebut “ig mam” dalam bahasa Hatam, “tu misen” dalam bahasa Sough, dan “mod aki aksa” dalam bahasa Meyah.

Dalam bahasa Hatam-Moile, “ig mam” berarti rumah (ig) orang asli pedalaman Papua (mam), sehingga diterjemahkan sebagai “rumah orang pedalaman.”

Ciri Khas Rumah Kaki Seribu

Rumah ini menyerupai rumah panggung pada umumnya, tetapi memiliki keunikan pada jumlah tiangnya yang sangat banyak. Tiap tiang berdiameter sekitar 10 cm dan berjarak sekitar 30 cm. Kayu untuk tiang diambil dari hutan sekitar. Banyaknya jumlah tiang ini yang membuatnya disebut Rumah Kaki Seribu.

Menurut kepercayaan suku Arfak, tiang penyangga dan patung nenek moyang digunakan untuk menangkal ilmu hitam dan melindungi dari ancaman musuh.

Bagian kolong rumah dimanfaatkan untuk menyimpan kayu bakar dan kandang ternak. Atapnya terbuat dari rumput ilalang, daun sagu, jerami, atau daun pandan. Lantainya dari anyaman rotan atau bambu yang memungkinkan udara segar masuk ke dalam rumah.

Dinding rumah ini terbuat dari kayu pohon butska yang disusun horizontal-vertikal agar kuat. Rumah ini memiliki tinggi sekitar 4-5 meter, luas sekitar 8×6 meter, dan puncaknya setinggi 4,5-5 meter.

Keunikan lain dari rumah ini adalah tidak menggunakan paku. Semua bagian diikat dengan tali rotan atau akar pohon. Untuk masuk, penghuni harus menaiki tangga kayu.

Rumah ini memiliki dua kamar: beigwei (wanita) di kiri dan bietet (pria) di kanan, serta satu ruangan khusus untuk upacara adat yang lantainya dibiarkan tanah agar dapat digunakan untuk menari.

Rumah ini hanya memiliki dua pintu tanpa jendela, untuk meningkatkan keamanan dan pengawasan, melindungi dari musuh, hewan buas, udara dingin, serta bencana alam seperti badai.

Fungsi dan Kondisi Rumah Kaki Seribu Saat Ini

Rumah ini berfungsi sebagai tempat tinggal, penyimpanan harta, lokasi pesta, dan ruang berkumpul keluarga. Rumah ini terdiri dari beberapa bagian penting seperti lina (tangga), bisai (teras), dimbou mem (pintu utama), bietet (kamar laki-laki), beigwei (kamar perempuan), tigkoi si (tempat menggantung Noken), dan run ti (penyimpanan harta).

Namun, eksistensinya mulai tergeser oleh rumah modern akibat:

  • Transmigrasi pada era Soeharto yang membawa pendatang dan menyebabkan suku asli berpindah ke hutan.
  • Urbanisasi yang mengurangi sumber daya kayu akibat pembangunan dan eksploitasi hutan.
  • Modernisasi yang membuat masyarakat beralih ke rumah berbahan semen, batako, dan seng.

Pada 2016, Rumah Kaki Seribu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, mencerminkan kehidupan, kepercayaan, dan budaya suku Arfak.

Kunjungi juga https://balitraveldiary.com/

Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago