Indonesia

Goa Braholo, Catatan Kehidupan Manusia Purba di Gunung Kidul

Helloindonesia.idGoa Braholo menjadi saksi sejarah kehidupan purba di Nusantara. Di goa yang terletak di Dusun Semugih, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini banyak ditemukan fosil hewan berusia ribuan hingga puluhan ribu tahun.

Salah satu fosil tertua yang ditemukan oleh Tim Pusat Arkeologi Nasional adalah gigi gajah berusia 33 ribu tahun. Fosil tersebut ditemukan pada kedalaman 6 sampai 7 meter.

Selain fosil gajah, juga ditemukan tulang sejumlah jenis hewan dengan usia antara 3.000 sampai 7.000 tahun. Di antaranya adalah tulang belikat rusa, tulang belulang kera, babi, anjing, tikus, dan kerbau di kedalaman 1-4 meter. Temuan ini menunjukkan jejak sejumlah jenis hewan purba yang pernah hidup di Gunungkidul.

Selain fosil hewan, ditemukan juga fosil manusia yang diperkirakan hidup 9.000-an tahun lalu. Bentuk tubuh fosil yang sudah ditekuk menunjukkan bahwa manusia kala itu sudah mengenal tata penguburan awal. Mereka bukan manusia purba seperti yang ditemukan di Sangiran, tetapi manusia modern (Homo sapiens) awal. Saat ini kerangkanya masih disimpan di Museum Punung Pacitan.

Diduga kuat, hewan-hewan itu merupakan hasil buruan para manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Tampaknya manusia yang hidup di Gua Braholo pada masa itu terbiasa berburu lalu membawa hasil buruannya ke tempat tinggal mereka untuk dikonsumsi.

Dari hasil penelitian, Goa Braholo menyimpan sejarah yang sangat panjang. Di sini juga ditemukan ala-alat dari masa Neolitikum ketika manusia mulai menemukan periuk dari tanah liat sekitar 2.000 sampai 2.500 ribu tahun yang lalu.

Penelitian terhadap Gua Braholo pertama kali dilakukan pada tahun 1995 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bidang Prasejarah. Penelitian itu merupakan tindak lanjut dari eksplorasi pada 1996.

Gua Braholo terletak di lereng sebuah bukit karst, tidak begitu jauh dari Goa Bribin yang terkenal dengan sungai bawah tanahnya. Untuk menuju ke lokasi, pengunjung harus menaiki anak tangga. Gua ini sepi dari pengunjung karena tak banyak yang mengenalinya.

Mulut gua menghadap ke arah barat daya, dan terletak pada ketinggian 357 mdpl. Sementara lantai gua, yang sebagian relatif datar dan lainnya miring, ada di ketinggian 352 mdpl. Tinggi langit-langit goa bisa mencapai 15 meter. Lebar ruangan gua 39 meter, dan panjang 30 meter. Luas goa ini mencapai 1.172 meter persegi.

Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago