Indonesian

Orom Sasadu, Tradisi Pesta Makan Adat Suku Sahu di Jailolo

Helloindonesia.id – Masyarakat Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, memiliki tradisi pesta panen yang unik. Tradisi berupa pesta makan bersama ini dinamakan Orom Sasadu. Orom berarti makan, sementara sasadu berarti rumah adat.

Orom sasadu

Masyarakat Sahu menggelar Orom Sasadu dua kali setahun. Ritual pertama biasanya digelar bulan Januari setelah selesai menanam. Dalam ritual itu, hanya digelar makan kecil yang tidak melibatkan banyak orang.

Setelah panen, baru digelar makan besar. Biasanya pada bulan Agustus. Meski dalam beberapa tahun terakhir, Orom Sasadu digelar pada sekitar bulan Mei dalam rangkaian acara Festival Teluk Jailolo.

Menurut kepercayaan asli Suku Sahu, digelarnya ritual Orom Sasadu akan mendatangkan hasil yang berlimpah pada musim panen berikutnya.

Salah satu keunikan ritual Orom Sasadu adalah durasinya yang bisa sangat panjang. Di masa silam, ritual ini berlangsung selama 7 hari 7 malam, 5 hari 5 malam, 3 hari 3 malam, atau cuma semalam, tergantung dari hasil panen yang diperoleh. Jumlah hari pelaksanaan ritual mesti ganjil.

Dulu, ritual makan bersama ini sangat ajaib. Selama acara yang berlangsung berhari-hari itu, mereka yang merayakannya tidak merasa mengantuk meski tidak tidur sama sekali. Mereka tidak merasa kenyang, meski makan terus-menerus sambil bernyanyi dan menari.

Mereka juga tidak mabuk, meski banyak meminum ciu (minuman keras tradisional khas Halmahera Barat). Meminum ciu menjadi keharusan bagi semua orang yang hadir dalam acara adat ini.

Dulu ada piring antik. Makanan yang ditaruh di piring itu tidak akan basi walaupun sudah berhari-hari. Menurut Ketua Suku Sahu Thomas Salasa, ritual 7 hari 7 malam terakhir digelar 1963. Piring antik masih ada waktu itu. Saat ini, Orom Sasadu hanya digelar semalam saja.

Salah satu makanan yang khas yang disajikan dalam acara makan bersama ini adalah nasi cala atau nasi kembar. Nasi yang dibungkus daun pisang ini dimasak dengan cara dibakar menggunakan bambu.

Ada makna khusus di balik menu tradisional ini. Nasi kembar melambangkan perdamaian, persatuan, serta gotong royong dan saling tolong-menolong antara Suku Sahu Talai dan Sahu Padisuwa.

Dengan demikian, tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini juga memiliki fungsi untuk mempersatukan masyarakat serta menjaga kedamaian daerah setempat.

Pelaksanaan ritual Orom Sasadu dibuka oleh ketua adat. Orang-orang yang hadir lalu dipersilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disajikan, lengkap dengan minuman ciu.

Acara makan bersama akan diiringi oleh alunan alat musik gong dan tifa. Selingan tarian Sara Dabi-dabi dan Legu Salai akan semakin menambah semaraknya suasana.

Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago