Indonesian

Candi Sambisari, Wisata Budaya di Kabupaten Sleman

Helloindonesia.id – Candi Sambisari merupakan peninggalan sejarah yang dibangun pada masa kejayaan Mataram Hindu. Bangunan kuno ini terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman.

Didirikan pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Rakai Garung, candi ini memiliki keunikan tersendiri. Letaknya yang lebih rendah dari tanah desa sekitar membuat pengunjung harus menuruni tangga setelah melewati loket masuk candi. Itu sebabnya, dari area parkir yang jaraknya tidak jauh, bangunan candi ini tidak terlihat.

Selama beberapa abad, bangunan Candi Sambisari terkubur. Diperkirakan hal tersebut  terjadi akibat letusan besar Gunung Merapi pada 1006 Masehi.

Keberadaan candi ini mulai terkuak setelah seorang petani bernama Karyowinangun menemukan salah satu bagian candi saat mencangkul sawahnya pada 1966. Berdasarkan temuan tersebut, Dinas Kepurbakalaan kemudian melakukan penelitian dan penggalian.

Perlu waktu 2 dasawarsa untuk merampungkan proses ekskavasi hingga rekonstruksi bangunan. Candi ini baru selesai dipugar pada 1987. Peninggalan sejarah ini dinamakan sesuai dengan nama desa tempat bangunan ini ditemukan.

Berdasarkan hasil penelitian arkeologi, Candi Sambisari dibangun kira-kira pada dekade kedua abad ke-9 Masehi, atau dua abad sebelum erupsi Merapi tahun 1006. Raja yang berkuasa di Mataram Hindu pada periode tersebut adalah Rakai Garung (828-846 Masehi).

Saat ini, Candi Sambisari dibuka sebagai salah satu destinasi budaya di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya tak jauh dari Kota Yogya, sekitar 12 kilometer ke arah timur, dapat ditempuh sekitar setengah jam dengan kendaraan bermotor.

Para pengunjung sebaiknya datang ke tempat ini pagi hari sebelum sinar matahari terasa panas menyengat. Tempat berteduh jarang terdapat di sekitar tempat ini. Di pagi hari juga belum banyak pengunjung yang datang sehingga kita bisa bebas berkeliling menikmati arsitektur candi.

Pengunjung juga bisa datang sore hari ketika matahari sudah tidak lagi terik. Namun, pada sore hari biasanya juga akan lebih banyak pengunjung. Biasanya kunjungan paling banyak  terjadi pada sore hari ketika libur.

Jika pengunjung ingin menyaksikan hijaunya rerumputan di sekitaran candi maka datanglah pada musim hujan. Saat musim kemarau, rerumputan akan mengering dan warnanya berubah menjadi kuning kecokelatan. Tentu pilihlah hari yang cerah agar tak terganggu saat berkunjung ke candi.

Baca Juga

https://helloindonesia.id/id/ijo-temple-the-beauty-of-a-hindu-temple-located-at-altitude/1360/indonesian/
Hello Indonesia

Recent Posts

Evolusi Kopi Nusantara: Dari Kebun Menuju Gaya Hidup Urban

Dahulu, kopi mungkin hanya identik dengan minuman pagi para orang tua di teras rumah. Disajikan…

2 bulan ago

Nikmatnya Abon Gulung Manokwari, Oleh-oleh Ikonik dari Papua Barat

Abon Gulung merupakan primadona kuliner dari Manokwari, Papua Barat. Roti ini bukan sekadar camilan biasa…

5 bulan ago

Tari Magasa: Simbol Kerukunan dan Persatuan Suku Arfak di Papua Barat

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni tari. Salah satu yang paling…

5 bulan ago

Hari Trikora: Sejarah, Tujuan, dan Makna

Hari Trikora diperingati setiap 19 Desember sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Trikora…

6 bulan ago

Danau Anggi Papua Barat – Keindahan Alam Pegunungan Arfak

Danau Anggi Papua Barat merupakan salah satu destinasi alam eksotis yang terletak di kawasan Pegunungan…

6 bulan ago

Tari Wutukala: Ekspresi Syukur Nelayan Papua yang Sarat Nilai Budaya

Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional khas Papua Barat yang berasal dari wilayah pesisir…

6 bulan ago