Suku Naulu dan Huaulu Serta Modernisasi Didalamnya

Tradisi Suku Naulu Dan Modernisasi Masa Kini

Kali ini kita akan mengenal suku pedalaman yaitu suku naulu di pedalaman maluku, meskipuin beberapa daerah sudah ckup berkembang ternyata maluku masih menyimpan berbagai suku yang ckup tradisional disana, Suku Huaulu yang tinggal di wilayah utara Pulau Seram dan Suku Naulu yang menempati wilayah pesisir Selatan Pulau Seram.

Sejarah Suku Naulu

Suku Naulu dan Suku Huaulu sebenarnya masih berada dari satu nenek moyang. Konon, pada jaman dahulu mereka berasal dari satu ayah dengan ibu yang berbeda. Karena permasalahan adat, maka keduanya dipisahkan dengan tujuan satu ke utara dan lainnyaDan selatan. Sejak itu, kedua suku ini berkembang pesat menjadi Naulu dan Huaulu. Kekerabatan mereka tidak hanya ada di cerita, namun juga nampak dari beberapa tradisi mereka yang memiliki kesamaan, termasuk kain merah yang disebut kain Berang yang wajib dipakai oleh setiap laki-laki dewasa dalam suku.

  • Tradisi Suku Naulu Dan Modernisasi Masa Kini
  • Tradisi Suku Naulu Dan Modernisasi Masa Kini
  • Tradisi Suku Naulu Dan Modernisasi Masa Kini

Perbedaan suku Naulu dan Huaulu

Salah satu yang paling menonjol di antara kedua suku ini adalah Suku Naulu. Suku ini hidup di Selatan pulau Seram, tepatnya di dua Negeri atau dusun Sepa dan Nuanea. Dusun Sepa memiliki lokasi yang lebih dekat dengan kehidupan modern, sehingga Suku Naulu yang hidup di dusun ini cenderung lebih modern dan lebih maju dalam pembangunan dusunnya. Untuk diketahui, Dusun Sepa memiliki 5 pemukiman yaitu Bonara, Naulu Lama, Hauwalan, Yalahatan, dan Rohua.

Tradisi Suku Naulu

Suku Naulu memiliki beberapa tradisi yang unik dan cukup menyeramkan untuk diterapkan dalam kehidupan modern. Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi memenggal kepala sebagai ritual dalam beberapa upacara adat yang mereka miliki. Salah satunya adalah upacara mendirikan rumah adat baru dimana mereka membutuhkan tengkorak kepala manusia sebagai ritual persembahan pada dewa. Selain itu, pemenggalan kepala ini merupakan sebuah tanda kedewasaan dari para kaum pria Naulu. Pada masa lalu, seorang anak laki-laki harus menyerahkan sebuah kepala terpenggal kepada warga desa sebagai bukti bahwa ia sudah dewasa. Namun, tradisi ini sudah terlarang secara hukum untuk dilakukan sejak terjadinya tragedi kriminal di tahun 2005 yang berlatar belakang tradisi ini.

Tradisi lainnya yang masih bertahan adalah pengucilan wanita yang pertama haid dan akan melahirkan. Suku Naulu menyediakan sebuah bilik berukuran 2×2 meter yang bernama Tikusune. Bilik ini berfungsi sebagai tempat mengasingkan diri bagi kaum Hawa yang akan melahirkan atau mendapat menstruasi pertamanya. Biasanya, wanita yang akan melahirkan dan mendapat haid pertama akan secara otomatis lengasingkan diri dari keluarganya dan menempati bilik Tikusune hingga selesai masa haid dan telah melahirkan. Setelah masa tersebut dilewati, kemudian mereka akan kembali ke rumah masing-masing dan keluarganya mengadakan pesta bagi kembalinya mereka ke keluarga.

Kepercayaan Suku Naulu Dan Huaulu

Dalam hal kepercayaan, Suku Naulu mempercayai adanya pencipta yang disebut Upu Kuanahatana. Sistem kepercayaan ini sebenarnya merupakan bagian dari animisme yang percaya pada kekuatan-kekuatan roh nenek moyang. Mereka percaya bahwa roh-roh ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia, sehingga layak untuk mereka sembah dan puja. Namun, dalam kependudukan Indonesia yang modern, kepercayaan Naulu ini dianggap sebagai Agama Hindu.

Suku Naulu adalah sepenggal contoh dari sekian ribu suku yang terdapat di Nusantara. Kebudayaan ini merupakan sebuah kekayaan Indonesia yang harus dijaga bersama. Selain dijaga, kebudayaan ini harus tetap dikembangkan sehingga tetap mampu bertahan di antara terpaan budaya modern yang sangat deras. Paling tidak, generasi masa depan tetap mengenal adanya satu suku asli Maluku yang bernama Naulu. DW
Sumber : indonesiakaya.com